Cara Pengolahan Lahan yang Efektif untuk Tanaman Padi


Tanaman Padi di Canden, Bantul,  umur 12 hst belum dipupuk kimia


Di Indonesia, sebagian besar petani  membudidayakan tanaman padi, karena menjadi akanan pokok bagi masyarakat. Namun, sebagian besar petani budidaya padi di Indonesia masih menggunakan cara bertani konvensional. Mereka kurang mampu berinovasi, bahkan merasa ragu-ragu untuk beralih ke cara bertani organik. Bertani organik bahkan dianggap sebagai sistem pertanian yang sudah ketinggalan jaman, seperti yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita. Di jaman modern, dunia pertanian sudah dianggap sedemikian maju, segala macam pupuk dan pemberantas hama (insektisida) sudah disediakan pabrik, semua tinggal pakai. Padahal jika diteliti kandungan zat kimianya, ada zat yang berbahaya bagi lahan dan kesehatan manusia.

Pupuk kimia memang lebih praktis, setelah diaplikasikan ke tanaman, dalam waktu singkat sudah kelihatan hasil pertumbuhannya pada tanaman. Namun dibalik cara praktis ini ada kandungan berbahaya bagi lahan pertanian. tanah semakin lama semakin tandus karena zat kimia mengikat unsur hara dan mineral yang secara alami dibutuhkan tanaman. Akhirnya tanah menjadi tandus, miskin unsur hara, bahkan bakteri/mikroba yang dibutuhkan tanaman juga ikut mati.

Budidaya dengan sistem oorganik, saat ini menjadi kurang populer bagi etani, karena kurang praktis. Padahal jika kita mengetahui caranya, budidaya dengan sistem organik akan lebih mudah diterapkan untuk lahan kita dan hasilnya akan lebih baik. Secara  praktis, kebiasaan petani adalah membakar sisa jerami setelah panen. Jika ingin beralih ke organik, sebaiknya sisa jerami tidak perlu dibakar. Sisa jerami dibusukkan saja dengan cara fermentasi.

Cara Fermentasi Lahan :
1. Fermentasi caranya dengan menyemprot lahan yang masih ada sisa jeraminya, dengan  larutan Dekomposer.
2. Kondisi lahan perlu cukup air (mencak-mencak), namun tidak perlu banyak air
3. Semprotkan laruan Dekomposer merata ke lahan dengan dosis 10-15 cc untuk 1 liter air (8 tutup untuk tangki sprayer ukuran 14 liter)
4. Setelah 3 hari, dilakukan pembajakan lahan sawah
5. Setelah seminggu, lahan siap untuk ditanami padi

Proses fermentasi lahan terjadi setelah lahan disemprot dengan larutan Dekomposer, yaitu saat bakteri pengurai yang terdapat pada Dekomposer  mulai bekerja mengurai sisa jerami dan unsur hara yang ada di lahan sawah.
Keuntungan dengan cara ini, petanki lebih hemat pupuk, kondisi lahan mengalami perbaikan karena semakin gembur sebagai akibat bertambahnya bakteri pengurai, hasil panenan lebihh bagus kualitasnya karena penerapan pupuk organik dan berkurang nya pupuk kimia. Pupuk Dekomposer memiliki keunggulan karena mengandung bakteri unggul pengurai bahan organik dan nutrisi. Biasanya anakan lebih banyak.

Salah satu produk Dekomposer yang biasa saya gunakan adalah Beka Dekomposer, produksi PT Indo Acidatama, yang selama ini terbukti bagus dalam proses mendekomposisi bahan-bahan organik di lahan. Bahkan, pupuk ini juga berfungsi sebagai komposter atau bahan untuk membuat kompos (pupuk organik dari sampah, kotoran hewan, sisa sayuran, dan bahan organik lainnya).
Jika ingin informasi lebih lanjut mengenai cara fermentasi lahan bisa menghubungi saya, melalui telp atau media WA 085743285570 (Danielprast).

Beka Dekomposer, produksi PT Indo Acidatama

Comments

  1. Numpang promo ya Admin^^
    ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat
    ayo segera bergabung dengan kami di ionpk.biz ^_$
    add Whatshapp : +85515373217 || ditunggu ya^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pupuk Organik Bio Bacter : Menghemat Pemakaian Pupuk Kimia Hingga 50 %

Caara Membuat Pestisida Alami